Monday, November 26, 2007

Pemikiran ala Karl Marx

Perkembangan filsafat saat ini tidak dapat dipungkiri. Berawal dari filosof beraliran klasik seperti Socrates, Aristoteles, Hipokrates, dan filosof yang beraliran ilmu alam menyebabkan munculnya para filosofis yang mengkaji ilmu sosial. Karl Marx sosok manusia yang tempramennya tidak mau diatur, jorok, dan acak-acakan. Tempramennya itu tidak dapat hilang dan terbawa hingga dewasa. Munculnya ia telah melahirkan beberapa tokoh filosof yang beraliran sosialisme. Bahkan teorinya di bidang sosial dan politik telah mendapat respon oleh pemikir lainnya.
Tidak disadari hadirnya Karl Marx menimbulkan ajaran-ajaran seperti Komunisme, Marxisme dan Leninisme yang berdampak di Indonesia. Pelarangan ajaran komunisme, marxisme, dan leninisme seperti peristiwa berdarah 1965 di seluruh Indonesia, menumpahkan banyak darah, air mata, dan kepedihan. Ada banyak anak yang kehilangan ibu, isteri kehilangan suami, bapak kehilangan puteri dan seterusnya, karena “dipertautkan” dengan segala sesuatu yang “dipersangkakan” sebagai marxisme, leninisme atau komunisme tersebut.
Pelarangan itu, jika direnungkan, juga telah membawa dampak dalam pergerakan sosial. Dengan pudarnya kelompok sosial yang mendasarkan teori sosialnya pada marxisme, kalangan islam, nasionalis dan berbagai kelompok lain, kehilangan mitra dialog yang tajam dalam memikirkan ideologi dan berbagai perubahan sosial yang dicita-citakan, misalnya yang menyala pada dasawarsa sebelum dan sesudah kemerdekaan. Kini, pemikiran sosial tampak terasa tumpul dan kering.
Istilah marxisme sendiri yang tertulis di buku ini sebutan bagi pembakuan ajaran Karl Marx yang dilakukan oleh Friedrich Engels dan Karl Kautsky. Dalam pembakuan itu, terjadi penyedehanaan-penyederhanaan terhadap pemikiran Karl Marx yang sebenarnya sangat ruwet, agar sesuai dengan ideologi perjuangan kaum buruh. Baik ajaran komunisme atau “Marxisme-Leninisme” dan Marxisme yang dirumuskan Engels dan Kautsky, oleh banyak pengamat dianggap menyimpang dari apa yang dimaksudkan Marx sendiri. Bahkan Marx sendii berucap “Yang saya tahu, saya bukan Marxis”.
Jiwa revolusioner Marx dan ketidakmampuan melihat penderitaan manusia melahirkan sebuah peryataan pada hakikatnya yang membuat manusia menjadi homohumanis adalah kerja. Dengan bekerja manusia mencapai kenyataan sepenuh-penuhnya dan dalam aktivitas bekerja pula manusia mengadakan diri tidak seperti dalam keadaan kesadaran secara intelektual, melainkan secara berkarya senyatanya, sehingga ia memandang dirinya sendiri dalam dunia yang diciptakan sendiri. Marx mencitrakan manusia ke dalam posisi emansipatoris, hal demikian berarti ia menghilangkan segala sesuatu yang menghalang-halangi manusia secara positif menghumanisasikan manusia. Untuk mencapai kodratnya sebagai makhluk tertinggi maka kondisi objektif dari keadaan materi manusia harus tetap menjadi faktor dominan berhadapan dengan kesadaran.
Pemikiran Karl Marx yaitu filsafat materialisme memperlihatkan adanya keterhubungan dengan dengan materialisme lama. Sumbangan yang diberikan Karl Marx adalah, materialismenya mengarah kepada keterlibatan manusia sebagai subjek kesadaran. Marx berhasil mengatasi materialisme dualistis yang disebutnya vulgar serta materialisme mekanistis abad 18, namun tesis Marx menjadi berat sebelah ketika mereduksikan seluruh ketergantungan manusia pada alam materi.
Karl Marx berfilsafat materialisme dialektis berawal dari tesis dan ia berusaha menjelaskan tentang perbedaan-perbedaan kuantitas benda akan melahirkan sebuah perbedaan-perbedaan ke tingkat kualitas. Tesis yang ditulis Karl Marx mengungkapkan pula bahwa ide hanyalah fungsi dari materi yang kompleks, fungsi ini mendapatkan tempatnya dalam kehidupan sosial manusia. Karena diacu sebuah tesis dasar bahwa kehadian manusia tidak ditentukan oleh kesadarannya, tetapi lebih ditentukan oleh percaturannya dalam pengalaman material. Disinilah faktor pentingnya hubungan antara manusia dan alam yang diungkapkan Marx dalam karya ini.
Buku ini mengajak berpikir secara filosofis ala Karl Marx, yang didalamnya terdapat Filsafat Materialisme Dialektis maupun Materialisme Historis yang senantiasa menekankan faktor manusia. Panggilan dan renungan humanisme yang terdapat pada buku ini menjadi bopeng ketika penyadaran etis yang dianjurkan harus diselesaikan lewat cara-cara revolusi dan kekerasan, yakni pertentangan yang justru merusak citra kemanusiaan. Dan perlu dicatat buku ini menjadi pengantar kepada pemikiran Karl Marx yang lebih luas.

Pak, ini dulu baru itu…

Pukul 18.00 Wita ditengah keramaian dan keributan, Made(bukan nama sebenarnya) lagi asyik konsen menonton Siaran di SCTV. Sehingga tidak menghiraukan situasi disekelilingnya, tidak lain bukan Liputan6 pemberitanya Rosianne Silalahi tontonannya yang membuat dia begitu cuek terhadap sekelilingnya. Begitu kagetnya apabila terdengar bahwa upah dikalangan dosen dan guru begitu naik drastis. Apalagi ia selaku dosen Perguruan Tinggi negeri di Bali. “Lagi pemerintahan SBY kali ya?”, tanyanya dalam hati yang begitu senang sekali.
Siapa yang gak senang kalo kita mengalami kenaikan gaji atau pendapatan? Udah bekerja berpuluh-puluh tahun dan masih setia ama pekerjaan itu, dan ketika mendengar kabar itu(kenaikan upah) ya..bisalah berlega hati. Apalagi dengan bapak Presiden kita yang baru disamping militer, intelek lagi (bukan promosi loh…). Itu semua bisa dirasai oleh bagi orang yang sudah bekerja seperti contoh diatas yang berprofesi Dosen perguruan tinggi mengalami kenaikan upah. Bagaimana dengan kita yang kaum intelek yang bukan sebagai dosen atau pengajar yang kerjanya hanya kuliah?
“Kapan mata kuliah ini cepat selesai ya?” kita sudah pasti pernah mendengar ungkapan seperti ini. Jangan bohong dech kita gak pernah mendengar ungkapan ini. Padahal kita sendiri lagi yang ungkapin begitu. Ungkapan itu merupakan salah satunya virus dari mahasiswa yang menganggap qualitas mengajar dosen kurang efektif dari pandangan kita. Itu salah satunya akibat dari kenaikan upah. Siapa sih yang gak mau upah tinggi tapi waktu kerjanya sedikit? Kalo gitu mari kita melamar dosen ramai-ramai. Itupun kalo tamatan sarjana diterima saat ini.
Sudah ke enam kalinya negara kita RI sudah mengalami pergantian presiden. Pergantian upah terhadap kalangan berprofesi juga sudah dilaksanakan. Contohnya aja ketika Presiden kita Gusdur juga mengalami kenaikan upah di kalangan masyarakat. Malah Pak SBY juga ikut-ikutan menaikkan upah pengajar(dosen dan guru). Sekarang bagaimana dengan sistem pendidikan di Indonesia sendiri? Tentunya dari segi biaya yang paling utama.
Makin tahun ke tahun biaya pendidikan Indonesia semakin mahal. Itupun jika kita merasainya jika sekarang. Buktinya aja hampir banyak perguruan tinggi sudah mengambil inisiatif untuk BHMN. Itu menyulitkan teman kita yang kurang mampu untuk masuk perguruan tinggi favoritenya misalnya UI, ITB, UGM, dan IPB. Padahal mereka cukup berprestasi di bangku SMU hingga juara kelas lagi. Begitu mereka lulus dan melihat biaya di perguruan tinggi yang begitu mencekik leher buyer harapan mereka. Putus semangatnya lagi ketika mereka lulus PMDK dan melihat biaya yang sangat absolute itu.
Sepertinya prihatin ya melihat teman kita yang tidak kuliah gara-gara biaya. Itu pasti Presiden kita kurang menanggapi tentang pendidikan negaranya sendiri. Padahal pendidikan termasuk masalah yang utama untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Bukan menaikkan Upah pengajar untuk mencerdaskan bangsa. Karena pendidikan juga salah satunya penentu majunya Indonesia sekaligus mengubah pandangan negara luar. Siapa yang gak kepengen negaranya diacungkan jempol oleh negara lain di bidang pendidikan? “Pendidikan dulu baru upah” suatu ungkapan yang seharusnya dilontarkan kepada pemerintah baru kita.

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | fantastic sams coupons