Showing posts with label movie. Show all posts
Showing posts with label movie. Show all posts

Monday, April 09, 2012

'GONE', Kisah Kakak yang Menyelamatkan Nyawa Sang Adik


Film kali ini mengisahkan perjuangan seorang kakak untuk menyelamatkan adiknya. Film yang dilakoni oleh Amanda Seyfried dan disutradarai Kike Maillo ini mampu membuat penonton terhipnotis.
Sepulang dari bekerja, Jill (Amanda Seyfried) mendapati adiknya tak ada di dalam rumah. Dia tahu Molly (Emily Wickersham) sedang tak bepergian ke rumah teman atau memilih menghabiskan waktu dengan berpesta. Jill sadar kalau adiknya telah di culik oleh seseorang yang dua tahun lalu pernah menawannya.

Meski enggan terlibat kembali dengan peristiwa menakutkan itu, Jill harus menyelamatkan nyawa sang adik sebelum semua terlambat. Waktu yang dia punya hanya 12 jam. Sayangnya, dalam rentang waktu itu tak ada seseorang yang mau mempercayai, bahkan polisi yang harusnya menjaga keselamatan masyarakat.
Genre : Thriller
Tanggal Rilis : 24 Februari 2012
Sutradara : Kike Maillo
Screenplay : Allison Burnett
Durasi : 94 Menit

Saturday, April 30, 2011

'ABDUCTION', Masa Lalu Yang Hilang


Masa lalu emang tidak selalu enak untuk didengar dan enak untuk diingat bagi kalangan remaja. Beda dengan Nathan Harper (Taylor Lautner) kebanyakan remaja lain seusianya. Bedanya, selama bertahun-tahun Nathan selalu dihantui perasaan aneh yang tak bisa ia jelaskan. Semuanya mulai terungkap ketika secara tak sengaja Nathan menemukan foto masa kecilnya di sebuah situs yang berisi foto-foto anak hilang.

Nathan pun mulai mempertanyakan identitasnya. Siapa dirinya sebenarnya? Kenapa fotonya bisa terpasang di situs anak hilang. Lalu siapa sebenarnya dua orang yang selama ini ia sebut sebagai ayah dan ibu? Semakin jauh Nathan mencari tahu, semakin terlihat kalau kehidupannya selama ini hanyalah kebohongan besar. Sebuah kebohongan yang dirancang dengan hati-hati. Lalu untuk apa?

Tak lama kemudian, tiba-tiba saja datang sekelompok orang yang ternyata mengincar nyawa Nathan. Mau tak mau terpaksa remaja ini melarikan diri. Untung ada Karen (Lily Collins) yang selama ini selalu menemani Nathan. Dalam waktu singkat, dua remaja ini tiba-tiba saja jadi buronan. Semakin jauh Nathan lari, ia pun sadar kalau satu-satunya cara untuk selamat adalah dengan menghadapi apa yang selama ini memburunya.

Genre : Thriller
Release Date : September 23, 2011
Director : John Singleton
Script : Shawn Christensen
Producer : Jeremy Bell, Doug Davison, Ellen Goldsmith-Vein, Dan Lautner, Roy Lee, Gabriel Mason, Lee Stollman
Distributor : Lionsgate
Duration : -
Budget : US$40 million

Tuesday, June 02, 2009

Jika Arnie gak Ada Lagi...


Masih ingat film Terminator yang dibintangi Arnold Schwazenegger(Arnie) sehingga perusahaan film bisa meraup dana yang besar? Wajar bila perusahaan film masih tergiur untuk meraup penghasilan besar dengan melanjutkan ”serial” Terminator. Cerita fiksi yang semula merupakan rekaan sutradara James Cameron ini memang terbukti menjadi mesin uang yang telah menghasilkan lebih dari US$ 900 juta. Tapi lain halnya dengan Christian Bale: sebenarnya dia tak memerlukan peran apa pun dalam film ini, kecuali bila niatnya memang hanya menambah saldo di rekening banknya.

Bermain sebagai John Connor, protagonis sejak awal serial, Bale (betul, dialah Batman yang seolah baru kembali dari neraka dalam The Dark Knight) tak sepenuhnya meyakinkan. Dia seperti rutin saja mengekspresikan kegeraman terhadap kaum mesin, musuh John bahkan sebelum lahir. ”Kau dan aku, kita sudah berperang sejak sebelum kita masing-masing ada. Kau mencoba membunuh ibuku, Sarah Connor. Kau membunuh ayahku, Kyle Reese. Kau tak akan membunuhku!” katanya sebagai John saat berhadapan dengan Marcus Wright, cyborg ”salah kamar” yang dia kira musuhnya.

Performanya pun di bagian-bagian terpenting malah ”kalah set” dibanding akting Sam Worthington. Pendatang baru dari Australia ini mencuri perhatian dengan sangat efektif memerankan tokoh Marcus.

Memang, harus diakui bahwa penampilan mereka berdua itulah yang ikut menghidupkan skenario film ini, satu ramuan yang mengkombinasikan aksi dan (ya, sedikit) romantisasi. Tapi ini formula yang biasa di Hollywood. Dan formula itu saja, yang sayangnya sangat dominan di sini, tak cukup untuk menjadikan film ini bisa sejajar dengan pendahulunya yang secara artistik, kalaupun bukan monumental, ya, teruji oleh waktu—The Terminator, Terminator 2: Judgment Day, dan Terminator 3: Rise of the Machines.

Mula-mula, yang membedakan film ini dengan ketiga pendahulunya adalah setting cerita. Setelah lebih dari cukup bertutur tentang robot pemusnah yang melintasi waktu untuk mencegah John menjadi pemimpin pemberontak di masa depan, para penulis skenario tak punya pilihan selain berpindah jalur. Mereka harus berkisah tentang masa depan itu. Dan inilah masa depan itu: dunia yang telah remuk akibat holocaust nuklir; dunia dengan jaringan komputer cerdas Skynet yang berkuasa dan terus berusaha memusnahkan umat manusia.

Pada 2018 itu John sedang berusaha memimpin perlawanan manusia terhadap mesin yang dikendalikan oleh Skynet. Pada saat yang sama, Marcus, narapidana yang dihukum mati pada 2003 setelah bersedia mendonasikan organ dan jaringan tubuhnya melalui Dr Serena Kogan (Helena Bonham Carter), bangkit dari tidur panjangnya. Marcus tak sadar bahwa dia telah diubah menjadi cyborg yang diprogram untuk sebuah tujuan di masa depan. Di puing-puing Los Angeles yang sunyi mereka berdua bertemu.

Benar, film dengan setting pascaperang nuklir itu sudah terlalu banyak—Mad Max, Matrix, The Postman, Six-String Samurai, dan lain-lain. Karena itu, agar tak menjadi klise dan biasa-biasa saja, Anda harus membubuhkan sesuatu yang unik. Tapi justru itulah yang tak dimiliki oleh film yang berdasarkan kerangka waktunya bercerita tentang peristiwa yang mendahului (prekuel) film-film sebelumnya ini.

Hal yang lain: di film ini tak ada karakter yang sekuat sang Terminator, robot yang di tiga film terdahulu diperankan oleh Arnold ”Arnie” Schwarzenegger, dan robot-robot lawannya yang didukung efek khusus computer-generated imagery yang memang menakjubkan. Marcus sebenarnya bisa mengisi posisi itu. Tapi barangkali, dibandingkan dengan sang Terminator yang dingin dan menjengkelkan, dia hanya terlalu baik, seseorang yang mencoba ”kesempatan kedua” di dalam hidupnya.

Sang sutradara, McG (Charlie’s Angels), sudah memastikan film ini dibuat sebagai permulaan dari sebuah trilogi baru, yang lebih berfokus pada John dan perjuangannya. Tentu saja, dengan apa yang ada di sini, rasanya akan sulit bagi film-film lanjutannya untuk mencapai posisi seperti halnya tiga film Terminator. Ya, kecuali jika kelak, di tengah jalan, para penulis skenarionya menemukan pengganti sang Terminator yang setara, dan juga penerus… (siapa lagi kalau bukan) Arnie.

Wednesday, May 14, 2008

13 GOING ON 30 : Cara Instan Seorang Remaja Menjadi Dewasa


Masa remaja itu asyik, indah, bahkan masa yang tidak bisa dilupakan sepanjang masa. Namun, tidak semua orang suka akan masa remaja yang dialaminya, bahkan lebih terpesona melihat orang dewasa yang berumur tigapuluh karena kedewasaannya. Film 13 Going on 30 yang disutradarai oleh Gary Winick memberi jawaban bahwa masa remaja itu merupakan masa yang tidak terlalu ribet dan sulit. Ya…maksudnya tidak sulit seperti anggapan Jenna.

Masa remaja bagi Jenna merupakan hidup yang sulit dijalani. Ia mengharapkan, masa remajanya bisa dilewati dengan cepat. Tanpa diharapkan, harapan itu terkabul saat Jenna merayakan ulang tahunnya ke-13. Sim salabim alakadabra, dalam sehari saja, Jenna menjadi seperti wanita berusia 30 tahun dengan bantuan bubuk ajaib milik sahabatnya Matt.

Di usianya yang matang, Jenna akhirnya bekerja sebagai seorang redaktur sebuah majalah terkenal di New York. Di mata rekan-rekannya, ia dikenal bertemperamen tinggi. Jenna memiliki seorang kekasih yang tampan. Sedangkan sahabat terbaiknya adalah gadis yang dulu membencinya. Sementara Matt, ternyata justru mencintai Jenna.

Ketika terbangun dan terjaga, Jenna menyadari, meski ia berusia 30 tahun namun kepribadiannya masih bocah belasan tahun. Kisah semakin menarik ketika Jenna dewasa berusaha mengubah pendapat orang lain tentang dirinya dan memperbaiki hubungan dengan Matt.

Sekurangnya dengan menonton film yang menarik ini, kita mendapat gambaran tentang akibat dari kedewasaan yang instant. Jadi, bagi kalian yang belum membeli tiket alias belum mendapatkan film ini, don’t miss to watch it.

Saturday, April 05, 2008

Finding Nemo: Sang Ayah yang berjuang Mencari Sang Anak


Pernah nonton kartun Mickey Mouse dan kawan-kawan? Kartun yang diproduksi oleh Walt Disney telah mampu memhipnotis alias menarik kita untuk menonton dan menjadikannya kartun favorite sepanjang masa. Bahkan kalau ditanya tokoh-tokohnya kita dapat menyebut dengan selengkap-lengkapnya dan sejelas-jelasnya. Karena ingin lebih produktif lagi, akhirnya Walt Disney dan Pixar memproduksi Finding Nemo film kartun beranimasi yang keren banget dan tidak kalah bagus dengan film animasi lainnya.
Film yang beranimasi 3D ini mengisahkan tentang seekor ikan bernama Marlyn, yang berasal dari ras Badut, disebut Badut karena badannya berwarna oranye dan bergaris putih. Marlyn adalah sosok ayah yang sangat over protektif terhadap anak satu-satunya yaitu Nemo. Sudah menjadi hal yang biasa kalo ada anak yang umurnya bertambah keingin tahuannya besar, begitu juga Nemo yang beranjak menjadi anak yang haus dengan pengetahuan di sekelilingnya. Sikap over protektif yang dimiki Marlyn diawali karena trauma ketika istrinya dan calon anaknya yang berjumlah ratusan dimakan oleh ikan Baracuda. Dan hanya satu telur yang sisa alias selamat yaitu telur Nemo.
Berhubung Nemo yang mulai beranjak dewasa, akhirnya ia disekolahkan bersama teman seumurnya. Saat Nemo sedang bermain bersama temannya, Nemo terlalu berani, dan masuklah dia ke dalam jebakan yang pada akhirnya mengantarkan dia ke sebuah aquarium dan jauh dari ayahnya. Padahal ketika kejadian ayahnya sempat datang, tetapi terlambat. Sang ayah pun berusaha keras untuk mencari Nemo, berbagai tantangan dihadapinya mulai dari serangan listrik Ubur-Ubur, Sergapan monster bawah laut, badai, dan ancaman Hiu yang kelaparan, serta jebakan dari manusia, Pokoqnya bener-bener berusaha bertahan hidup. Ketika sang ayah putus asa, atas bantuan angsa, akhirnya Marlyn sampai ditempat Nemo berada. Nemo dan teman-temannya sebenarnya sedang berusaha untuk kabur dari aquarium, dan ternyata berhasil, dan jatuhlah ia ke dalam saluran yang menghubungkan dengan laut dan bertemu dengan ayahnya.
Sebenarnya banyak tragedi dan halangan yang dirintangi sang ayah mencari anaknya si Nemo. Bagi kalian yang belum pernah nonton film animasi yang sempat meraih Oscar Film Animasi Terbaik pada 2003, jadi kudu nonton. Supaya kita mendapat ilustrasi bagaimana Papa Jesus mencari kita, ketika kita menjauh dariNya.

Tuesday, March 11, 2008

Bravery of D`Leh


Sudah menonton film Braveheart? Film itu(Braveheart) mengisahkan keberanian tentunya. Pada kali ini ada film yang menggugah kita untuk lebih berani lagi selain Braveheart yaitu film "10,000 BC". Asalnya film itu dibuat Nyaris seperti KING KONG. Namun yang membedakan adalah awal kisah, dan karater.

Kisah film ini bermula dari karakter D'Leh (Steven Strait), seorang pemburu Mammoth (hewan purba yang mirip gajah), berusia 22 tahun yang juga anggota dari suku Yagahl yang hidup 10.000 sebelum masehi (sekitar akhir kehidupan periode Upper Paleolithic). Bersama pasukannya menyusuri perjalanan ke negeri yang tidak diketahunya, demi menyelamatkan komunitas sukunya dari kepunahan.

Saat D'Leh masih kecil, seorang gadis bermata biru tiba-tiba saja muncul di antara suku Yagahl. Di saat yang sama, ayah D'Leh pergi untuk mencari jalan agar kelangsungan hidup suku mereka dapat terus berjalan. D'Leh kemudian jatuh cinta pada gadis bernama Evolet (Camilla Belle) itu.

Menurut tradisi kuno Yagahl, barang siapa berhasil membunuh pemimpin kelompok Mammoth yang selalu melewati pemukiman mereka pada saat-saat tertentu, maka ia aka mewarisi Tombak Putih dari Utara yang menjadi simbol kepala suku Yagahl.

Saat kelompol Mammoth melewati pemukiman suku Yagahl, perburuan pun dimulai. D'Leh yang berharap bisa memikat hati Evolet pun ikut dalam perburuan tersebut. Dengan keberuntungan di tangan, D'Leh berhasil membunuh mammoth terbesar tapi sayangnya keberhasilan D'Leh tidak diakui oleh Tic'Tic sang pemuka desa.

Malamnya, desa Yagahl diserang suku Naku. Beberapa penduduk desa pun diculik termasuk Evolet. Selamat dari serangan karena tidak berada di desa, D'Leh kemudian memimpin sisa-sisa penduduk Yagahl untuk memburu para penyerang mereka itu.

Kisah asmara yang dibalut seting di jaman prasejarah ini disuguhkan tanpa pesan moral yang terlalu muluk-muluk. Jalinan cerita pun dituturkan dengan sederhana dan mudah dicerna. Sang sutradara Roland Emmerich membuat keputusan yang cukup berani dengan memakai aktor dan aktris yang belum banyak dikenal publik.

Dominasi efek visual dalam membawa suasana ke jaman prasejarah mau tidak mau menjadi tonggak utama film ini. Tidak seperti APOCALYPTO yang berseting sama garapan Mel Gibson, Roland ngotot untuk menggunakan bahasa Inggris agar napas cerita lebih bisa ditangkap penonton.

Film itu memberi pesan bahwa Papa Jesus sudah memberi kita keberanian dari dalam diri kita dari mulanya. Baik keberanian berkata, berjalan sendiri, dan yang penting Tuhan sudah memberi keberanian untuk mengalahkan si Iblis(yang mempengaruhi kita untuk jauh dari papa Jesus). So, kita Putra n Putri Kerajaan Allah, gunakan otoritas dan kuasa yang telah diberikan.











 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | fantastic sams coupons